BeritaEntertainment

Malam Spektakuler Cap Go Meh 2026: Icha Yang Jadi Magnet Euforia di Hotel Borobudur

56
×

Malam Spektakuler Cap Go Meh 2026: Icha Yang Jadi Magnet Euforia di Hotel Borobudur

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA,Berita-Indonesianews.com- Perayaan Cap Go Meh 2026 di Hotel Borobudur Jakarta benar-benar ditutup dengan malam yang spektakuler. Mengusung tema “Discover Timeless Harmony”, ballroom legendaris hotel bintang lima itu berubah menjadi lautan lampion merah dan dekorasi emas yang megah. Namun di antara kemilau cahaya dan gemerlap suasana, satu nama paling mencuri perhatian: Icha Yang.

Ini menjadi kali kedua Icha tampil di panggung bersejarah tersebut. Tapi dibandingkan tahun sebelumnya, atmosfer kali ini terasa jauh lebih “panas” dan eksplosif. Sejak nada pertama dimainkan, tamu undangan langsung terpikat. Ballroom tak lagi sekadar ruang pertunjukan malam itu berubah menjadi ruang kebersamaan.

Para tamu bernyanyi bersama, bergoyang, bahkan beberapa lagu berubah menjadi koor massal yang hangat, bak reuni keluarga besar.

“Tahun ini konsepnya memang berbeda,” ujar Icha seusai konser dengan wajah sumringah. Jika sebelumnya ia membawakan lagu lintas genre dan bahasa, kali ini ia tampil total full Mandarin dari awal sampai akhir.
Langkah itu selaras dengan momen Cap Go Meh sebagai puncak perayaan Imlek. Nuansa Tionghoa terasa begitu kental dan autentik. Lagu-lagu enerjik seperti “Lai Lai Guo Xin Nian”, “He Xin Nian”, dan “Wo Zhi Zai Hu Ni” langsung memantik euforia. Suasana makin hangat saat Icha membawakan deretan hits Mandarin lain seperti “Ting Hai”, “Xi Huan Ni”, “Hai Guo Tian Kong”, hingga “Peng You”. Beberapa di antaranya bahkan dinyanyikan bersama oleh hampir seluruh ballroom.

Menariknya, tak ada satu pun lagu berbahasa Indonesia yang dibawakan malam itu. Semua memang sudah dirancang sesuai konsep acara.

“Karena ini momen Imlek dan Cap Go Meh, jadi memang nuansanya total Mandarin. Kalau acaranya berbeda, tentu bisa saja saya bawakan lagu Indonesia,” jelasnya.

Meski seluruh lagu menggunakan bahasa Mandarin, respons audiens tetap luar biasa lintas etnis dan lintas generasi. Bagi Icha, musik memang bahasa universal. Ia melihat antusiasme masyarakat Indonesia terhadap budaya Tionghoa, termasuk melalui musik, semakin terasa kuat dari tahun ke tahun.

Kemampuan Icha melafalkan lirik Mandarin dengan fasih juga tak luput dari perhatian. Ia mengaku belajar secara otodidak, termasuk saat pernah menetap selama sebulan di Tiongkok. Pengalaman itu membuat penghayatan dan artikulasinya semakin matang di setiap lagu yang ia bawakan.

Dari sisi penampilan, Icha memilih busana bernuansa Tionghoa modern. Tidak mengenakan kostum tradisional lengkap seperti biasanya, namun tetap mempertahankan sentuhan klasik yang elegan. Perpaduan modern dan tradisi itu seolah menjadi simbol wajah Imlek masa kini berakar pada budaya, namun tetap relevan dengan zaman.

Tak hanya penampilan Icha Yang, malam penutupan Cap Go Meh di Hotel Borobudur Jakarta juga diramaikan berbagai pertunjukan lain yang tertata rapi dan memukau. Rangkaian acara berjalan dinamis hingga penghujung malam, menjaga energi tetap hidup sampai lampion terakhir meredup.

Perayaan ini kembali menegaskan bahwa Imlek bukan lagi sekadar perayaan komunitas tertentu, melainkan bagian dari mozaik kebudayaan Indonesia yang dirayakan bersama.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *