SOLO,Berita-IndonesiaNews.Com – Sasana Parasdya di Solo menjadi titik temu sejumlah tokoh dan perwakilan keraton dari berbagai wilayah Nusantara pada Sabtu,( 5 / 9 / 2026 ). Mereka hadir dalam rangkaian jumeneng Pakubuwono XIV Hangabehi.
Kehadiran para raja dan tokoh keraton tersebut tidak sekadar menandai sebuah prosesi adat.
Pertemuan itu memperlihatkan bagaimana institusi-institusi tradisional masih memiliki ruang dalam lanskap kebudayaan Indonesia yang terus berubah.
Salah satu yang hadir adalah Keraton Sumedang Larang, Jawa Barat, yang diwakili Sri Radya Paduka Yang Mulia H.R.I. Lukman Suemadi Soeria.

Kehadiran tersebut menjadi bagian dari perjumpaan anter keraton yang membawa latar sejarah, tradisi, dan tata nilai masing-masing.
Jumeneng PB XIV Hangabehi berlangsung dalam konteks tradisi Kasunanan Surakarta yang memiliki perjalanan panjang dalam sejarah kebudayaan Jawa.
Karena itu, kehadiran keraton-keraton lain dapat dibaca sebagai bentuk penghormatan sekaligus ruang silaturahmi budaya di antara pewaris tradisi Nusantara.
Di tengah kehidupan modern, keberadaan keraton menghadapi tantangan yang tidak sederhana.
Warisan budaya tidak cukup dipertahankan melalui simbol, gelar, dan seremoni, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk menjadikan tradisi tetap relevan bagi masyarakat.

Pertemuan para tokoh keraton di Solo pun memiliki makna lebih luas. mempertemukan sejarah dengan masa kini, sekaligus menunjukkan bahwa keragaman tradisi Nusantara tidak berdiri dalam ruang yang terpisah-pisah.
Bagi Indonesia, keberagaman tersebut merupakan bagian dari kekayaan kebudayaan yang perlu dirawat secara proporsional.
Penghormatan terhadap tradisi tidak berarti menempatkannya di luar perubahan zaman, melainkan memastikan nilai-nilai budaya tetap hidup tanpa kehilangan konteks sejarahnya.
Jumeneng PB XIV Hangabehi dengan demikian bukan hanya sebuah agenda internal keraton. Kehadiran Raja-Raja Nusantara dan Keraton Sumedang Larang di Sasana Parasdya memperlihatkan adanya jejaring kebudayaan yang terus dipertahankan di tengah perubahan sosial Indonesia.
Reporter: ( al* )












