Ilmu Bukan Hanya Hadir di Atas Mimbar, Justru Keteladanan Ilmu, Akhlak, Itu Hadir di Pinggir Jalan dan Lingkungan Sekitar

Pasuruan,Berita-IndonesiaNews.Com – Ilmu agama tidak semestinya berhenti di atas mimbar dan ruang pengajian. Justru Ia menemukan maknanya ketika hadir dalam perilaku, terutama dalam cara seseorang memperlakukan orang-orang di sekitarnya.

Sebuah momen sederhana di kawasan Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (3/9/2026), memperlihatkan gambaran tersebut.

Pengasuh Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah sekaligus pimpinan Rabithah Alawiyah Pasuruan, Habib Taufik bin Abdul Qodir Assegaf, terlihat membagikan uang kepada sejumlah anak kecil yang berada di pinggir jalan.

Tidak ada panggung.Tidak ada acara resmi.Tidak terdengar pidato.Tindakan itu berlangsung singkat ketika Habib Taufik melintas di jalan raya Sidogiri.

Momen tersebut kemudian tertangkap kamera dan beredar di tengah masyarakat. Bukan karena sebuah seremoni, melainkan karena tindakan sederhana yang dilakukan secara langsung kepada mereka yang ditemuinya.

Dalam perspektif akhlak Islam, kepedulian semacam itu mengingatkan pada keteladanan Rasulullah Muhammad SAW.

Rasulullah tidak hanya mengajarkan kasih sayang, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian kepada anak-anak, orang miskin, tetangga, dan mereka yang membutuhkan serta lingkungan menjadi bagian dari akhlak yang beliau contohkan.

Karena itu, ukuran kebermaknaan ilmu tidak semata terletak pada seberapa banyak seseorang mengetahui dan menyampaikan ajaran agama. Ilmu akan memiliki nilai yang lebih kuat ketika melahirkan akhlak dan memberi manfaat bagi orang lain.

Seorang ulama boleh memiliki keluasan ilmu, hafalan, gelar, maupun pengetahuan agama yang mendalam. Namun, ilmu tersebut akan terasa jauh dari kehidupan masyarakat apabila tidak disertai kepedulian terhadap keadaan orang-orang di sekelilingnya.

Sebaliknya, tindakan kecil menyapa, membantu, berbagi, memperhatikan anak-anak, atau meringankan beban orang lain dapat menjadi bentuk nyata dari ilmu yang telah dipelajari.

Di titik itulah teladan Rasulullah SAW menjadi relevan. Akhlak bukan hanya sesuatu yang disampaikan dari mimbar, tetapi sesuatu yang terlihat ketika seseorang berhadapan langsung dengan manusia dan lingkungan di sekitarnya.

Apa yang dilakukan Habib Taufik dalam rekaman tersebut tentu hanya satu peristiwa dan tidak dapat dijadikan ukuran untuk menilai keseluruhan pribadi seseorang.

Namun, peristiwa sederhana itu memberikan satu pesan penting kepedulian sosial dapat dimulai dari hal kecil, bahkan ketika tidak ada yang meminta dan tidak ada acara yang harus dihadiri.

Nominal pemberian bukan inti persoalannya. Yang lebih penting adalah perhatian kepada mereka yang berada di hadapan mata.

Sebab, jika ilmu agama hanya bertambah dalam otak kepala tetapi tidak menumbuhkan kasih sayang dalam hati dan kepedulian dalam tindakan, manfaatnya bagi lingkungan sosial menjadi sulit dirasakan.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh bahwa kemuliaan akhlak berjalan beriringan dengan kepedulian kepada sesama.

Maka, bagi seorang ulama, semakin luas ilmunya, semestinya semakin luas pula manfaat yang dirasakan masyarakat. Bukan hanya pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi juga hadir ketika kebaikan itu dibutuhkan.

Pada akhirnya, keteladanan tidak selalu hadir dalam peristiwa besar. Kadang ia muncul dalam hitungan detik, di pinggir jalan, ketika seseorang memilih berhenti sejenak untuk berbagi kepada anak-anak yang ditemuinya.

Dari tindakan kecil itulah masyarakat dapat kembali mengingat satu hal: ilmu yang baik semestinya melahirkan akhlak, dan akhlak yang baik semestinya menghadirkan manfaat bagi sesama.

 

 

Reporter: ( al* )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *