BANTEN,Berita-IndonesiaNews.Com – Pada 1938, ketika ruang publik bagi perempuan masih terbatas, Nyai Hj. Djuaesih justru berdiri di atas mimbar Kongres NU ke-13 di Menes, Banten.
Di hadapan ratusan kiai, ia menyampaikan pidato sebagai perwakilan Muslimatun Bandung. Kehadirannya menjadi catatan penting dalam perjalanan perempuan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Nyai Djuaesih tidak datang sekadar sebagai tamu. Ia berbicara di tengah forum yang dihadiri sejumlah ulama dan tokoh NU, antara lain Kiai Wahab, Kiai Bisri, Kiai Asnawi Kudus, Syekh Kasyful Anwar dari Kalimantan, KH Abdurrahman Menes, Habib Gathmayr dari Palembang, dan KH Abdul Latif Cibeber.
Keberanian Djuaesih terekam dalam Verslag (Laporan) Kongres Muktamar NU ke-13 di Menes, Banten, tahun 1938. Dalam pidatonya, ia menyampaikan harapan agar keputusan kongres membawa kemajuan bagi umat Islam.
“Saya, atas nama Muslimatun Bandung turut menggembirakan adanya Kongres NU di Menes ini. Mudah-mudahan segala keputusan-keputusan yang diambil olehnya ini akan dapatlah kiranya menambahkan pesat dan beresnya hal-hal atau keadaan-keadaan yang ada di dalam kalangan muslimin umumnya.” tegas Nyai Hj, Djuaesih
Pidato itu rupanya meninggalkan kesan. Laporan kongres mencatat respons kaum perempuan yang hadir dalam jumlah besar.

“Mendengar dan melihat pidato beliau yang amat hebat itu, kaum-kaum ibu yang sama mendengarkan yang jumlahnya beberapa ribu itu memanggut-manggutkan dagunya,” demikian tertulis dalam laporan tersebut Sumber Verslag (Laporan) Kongres Muktamar NU ke-13 di Menes, Banten, 1938.
Bahasa laporan itu memang lahir dari zamannya. Namun satu hal sulit diabaikan Djuaesih telah mengambil ruang bicara ketika kesempatan tersebut belum lazim diberikan kepada perempuan.
Ia tampil, berbicara, dan menyampaikan pandangan di hadapan para kiai.
Di kongres yang sama, nama Siti Syarah, tokoh perempuan NU dari Menes, juga tercatat tampil. Namun Djuaesih memiliki posisi khusus dalam catatan yang diwariskan melalui laporan kongres tersebut.
Jejak Djuaesih menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar penonton dalam perkembangan awal NU. Ada perempuan yang telah hadir sebagai bagian dari percakapan organisasi dan kehidupan keumatan.
Hampir sembilan dekade berlalu, nama Nyai Hj. Djuaesih mungkin tidak sepopuler para tokoh laki-laki yang hadir pada kongres itu. Namun arsip 1938 menyimpan satu fakta penting pernah ada seorang perempuan Sunda yang berdiri di hadapan para kiai dan menyampaikan pidato dari mimbar Muktamar NU.
Bukan menunggu sejarah memberinya ruang, Djuaesih justru tercatat sebagai salah satu perempuan yang ikut membuka ruang .
reporter: ( kur )












