Maulid Akhir Kamis Kwitang ke-106, Keteladanan Rasulullah dan Tanggung Jawab Moral di Tengah Kehidupan Kota

JAKARTA,Berita-IndonesiaNews.Com – Peringatan Maulid Akhir Khamis ke-106 di Jakarta bukan sekadar agenda keagamaan yang mempertemukan jutaan jamaah.

Di tengah kehidupan ibu kota yang bergerak cepat, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi tentang pentingnya menjaga nilai keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sosial, termasuk dalam membangun relasi yang sehat antara masyarakat dan pemimpinnya.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menghadiri Maulid Akhir Khamis yang digelar di Majelis Ta’lim Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi, Gedung Islamic Center Indonesia, Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (10/9/2026).

Peringatan tersebut dihadiri jamaah dari berbagai wilayah Jabodetabek. Rangkaian kegiatan diisi dengan pembacaan kisah perjalanan dan keteladanan Rasulullah SAW, dilanjutkan ceramah agama yang disampaikan sejumlah alim ulama dan para habaib.

Kehadiran pimpinan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam forum tersebut memperlihatkan bahwa ruang keagamaan memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat perkotaan. Namun, esensi kehadiran seorang pemimpin dalam momentum semacam ini tidak berhenti pada simbol maupun seremoni.

Lebih jauh, Maulid menjadi kesempatan untuk mengingat kembali bahwa kepemimpinan pada dasarnya memiliki dimensi moral. Kekuasaan, pelayanan publik, serta kebijakan pemerintah pada akhirnya harus bermuara pada kemaslahatan masyarakat.

Kisah Rasulullah SAW yang dibacakan dalam peringatan tersebut juga menjadi relevan ketika ditempatkan dalam konteks kehidupan Jakarta yang kompleks. Ibu kota bukan hanya menghadapi persoalan pembangunan fisik, tetapi juga tantangan sosial, kesenjangan, toleransi, solidaritas, hingga kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan publik yang adil dan manusiawi.

Dalam perspektif itu, Maulid semestinya tidak berhenti pada ingatan terhadap sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nilai yang lebih penting adalah bagaimana keteladanan beliau diterjemahkan menjadi perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat, keteladanan itu dapat diwujudkan melalui kejujuran, kepedulian, toleransi, serta keberanian menjaga kepentingan bersama. Sementara bagi pemimpin, nilai tersebut menemukan relevansinya dalam sikap amanah, keadilan, keterbukaan, dan keberpihakan terhadap kepentingan publik.

Kehadiran Pramono dan Rano karno di tengah jamaah karenanya dapat dimaknai sebagai bagian dari upaya membangun kedekatan pemerintah dengan masyarakat melalui ruang sosial-keagamaan. Namun kedekatan tersebut akan memiliki makna lebih dalam apabila nilai-nilai yang disampaikan dalam majelis juga tercermin dalam tata kelola pemerintahan dan pelayanan kepada warga.

Sebab, ukuran kebermaknaan sebuah peringatan keagamaan bukan semata-mata terletak pada banyaknya jamaah atau kemeriahan acara. Ukuran yang lebih substansial adalah sejauh mana pesan moral yang disampaikan mampu keluar dari ruang majelis dan hadir dalam kehidupan nyata.

Di tengah dinamika Jakarta yang membutuhkan kerja pemerintahan sekaligus ketahanan sosial, pesan tentang akhlak, persaudaraan, keadilan dan kepedulian menjadi semakin penting.

Maulid dengan demikian dapat menjadi jembatan antara spiritualitas dan kehidupan publik antara kecintaan kepada Rasulullah SAW dan tanggung jawab manusia terhadap sesamanya.

Peringatan Maulid Akhir Khamis ke-106 akhirnya bukan hanya tentang mengenang sosok Rasulullah SAW, melainkan juga tentang menguji kembali sejauh mana nilai-nilai yang beliau ajarkan masih mampu menjadi kompas kehidupan masyarakat modern.

Dari Kwitang, pesan itu menemukan konteksnya: bahwa kemajuan sebuah kota tidak cukup diukur dari gedung yang menjulang, infrastruktur yang berkembang, atau aktivitas ekonomi yang bergerak. Kemajuan juga ditentukan oleh kualitas manusia yang menghuninya termasuk kualitas moral mereka yang diberi amanah untuk memimpin.

 

Reporter: ( al* )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *